• Welcome to PETROLAB Services
  • Working Hours : Mon - Fri : 8:00 - 17:00

Blog

corrosive sulphur

Corrosive Sulphur pada Minyak Transformator

Corrosive Sulphur pada Minyak Transformator, khususnya pada minyak mineral, adalah senyawa sulfur pada minyak transformator yang berpotensi membuat adanya proses korosi pada bagian-bagian di dalam transformator. Banyaknya kandungan sulfur pada minyak transformator tergantung dari tingkat proses refining dan tipe dari crude oil itu sendiri. Sulfur pada minyak transformator biasanya hadir dalam bentuk organo-sulphur atau elemental sulphur.

Pada suhu yang tinggi, sulfur yang terikat dengan molekul minyak dapat terdekomposisi dan bereaksi dengan senyawa metal dan membentuk metal sulphides. Salah satu contohnya adalah copper sulphide (CuS) yang mana senyawa tersebut dapat menurunkan kekuatan isolasi dari paper insulation pada transformator.

Salah satu pengujian untuk melihat potensi corrosivitas dari minyak transformator adalah dengan melakukan pengujian Corrosive Sulphur pada minyak transformator dengan menggunakan metode uji ASTM D 1275-15. Hasil dari pengujian tersebut adalah dengan melihat perubahan warna pada copper dari proses pengujian dan membandingkan dengan ASTM Copper Strip Corrosion Standards. Copper Strip yang telah diuji apabila memiliki warna >3b dibandingan dengan ASTM Copper Strip Corrosion Standards maka dianggap berstatus “corrosive” yang berarti potensi sulfur minyak trafo terhadap proses korosi harus diperhatikan. Sumber corrosive dapat dimungkinkan berasal dari :

  1. Temperature (suhu) : Suhu menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan terdekomposisinya senyawa sulfur pada molekul minyak transformator. Perlu dicatat pula minyak dengan suhu yang sama mungkin dapat memiliki perbedaan hasil tingkat corrosivitasnya, umur minyak transformator menjadi salah satu faktornya.
  2. Kontaminasi sulfur dari minyak OLTC ke main tank pada transformator.
  3. Kontaminasi dari proses purifikasi yang kurang baik.

Tindakan lanjutan yang diperlukan apabila terdapat minyak transformator berstatus “corrosive” adalah :

  1. Resampling untuk memastikan hasil pengujian corrosive sulphur.
  2. Lakukan pergantian minyak atau proses reklamasi yang tepat.
  3. Menambahkan passivator berupa senyawa turunan toluyltriazole.

Referensi :

  • IEC 60422, “Mineral insulating oils in electrical equipment-Supervision and maintenance guidance”, 2013
  • CIGRE Brocure 378, “Copper Sulphide In Transformer Insulation”, 2009
data

Intepretasi Data Metal Additive

Parameter elemental analysis ASTM D 5185 yang menggunakan alat ICP, selain mendeteksi wear metal dan kontaminan juga dapat untuk mendeteksi metal additive pada pelumas. Additive adalah chemical yang ditambahkan ke dalam base oil untuk memperbaiki dan meningkatkan performa sifat-sifat base oil. Setiap jenis pelumas memiliki komposisi additive berbeda-beda sesuai dengan aplikasi dan kebutuhannya.

Sebagai contoh, dapat dilihat pada Table.1 di bawah, engine oil umumnya memiliki additive detergent/dispersant yang tidak dimiliki turbine oil atau hydraulic oil, sehingga akan mengandung element Ca dan Mg jauh lebih tinggi. Hal yang sama juga berlaku misal untuk gear oil, umumnya akan memiliki metal additive fosfor/phosphorus (P) dibanding jenis pelumas lain yang tidak terdapat extreme pressure (EP) additive pada komposisi formulanya. Dengan mengetahui jenis aditif yang umum digunakan pada tiap tipe pelumas, akan membantu dalam melakukan analisa metal additive hasil oil analysis.

Pemantauan nilai metal additive pada hasil  oil analysis sedikit berbeda dibandingkan dengan wear metal atau kontaminan yang umumnya terdapat condemning limit dari OEM atau general limit dalam evaluasi nilainya. Evaluasi nilai metal additive dapat dilakukan dengan cara membandingkan nilainya dengan nilai dari sample new oil/fresh oil atau melihat trend data dari sample-sample sebelumnya. Perubahan signifikan pada metal additive menunjukkan kemungkinan adanya kontaminasi dari jenis pelumas lain, penurunan additive atau kesalahan identitas oil sample.

Author : Gilar H Putra (Technical Support Petrolab Services)

analisa furan

Analisa Furan Untuk Pemantauan Kondisi Solid Insulation Pada Transformer

Pada Oil-Immersed Transformator terdapat dua jenis isolasi, yakni minyak transformator (isolasi cair) dan paper insulation (solid insulation). Keduanya perlu dipantau secara rutin untuk memastikan ada atau tidaknya kondisi yang abnormal sehingga dapat dilakukan perencanaan tindakan untuk kedepannya untuk mengantisipasi hal-hal yang buruk terjadi.

Salah satu cara untuk memantau kondisi solid insulation pada transformator adalah melakukan pengujian Dissolved Gas Analysis (DGA), yakni dengan melihat kandungan carbon monoxide dan juga melihat combustible gas (hydrogen, methane, ethane, ethylene, dan acetylene). Namun, terdapat cara lain yang lebih “powerfull” yaitu pengujuan furan, hal tersebut disebabkan sumber timbulnya senyawa furan pada minyak transformator dominan berasal dari adanya dekomposisi pada paper insulation, sedangkan gas carbon monoxide dapat disebabkan karena okisdasi pada minyak isolasi. Oleh karena itu, kandungan furan juga dapat dijadikan sebagai tindakan lanjutan apabila ditemukan adanya indikasi dekomposisi yang abnormal pada paper insulation misalnya indikasi dari pengujian Dissolved Gas Analysis.

Lebih jelasnya, kandungan senyawa furan yang terlarut pada minyak transformator dapat digunakan untuk mengevaluasi ada atau tidaknya active fault atau dekomposisi kertas yang aktif. Selain itu, dengan menganalisis kandungan  senyawa furan pada minyak transformator maka dapat diperkirakan presentase sisa umur dari paper insulation. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menginterpretasikan senyawa-senyawa furan pada minyak transformator. Senyawa furan yang dapat dijadikan analisis diantaranya: 2-Furaldehyde, 2 Furfurol, 2-Acetylfuran, 5-Methyl-2-Furaldehyde, dan 5-Hydroxymethyl-2-Furaldehyde.

Melihat pentingya pemantauan kandungan furan pada minyak transformator, PT Petrolab Service dapat membantu pemilik oil-immersed transformator apabila ingin melakukan pengujian kandungan senyawa furan pada minyak transformator serta pemberian interpretasi dari hasil senyawa furan yang dihasilkan dari pengujain minyak transformator tersebut.

Sumber : SDMyers, “Transformer Management Essential”, 2018

oil analysis

Silicon pada Oil Analysis

Kenaikan Silicon (Si) pada hasil Oil Analysis, umumnya diindikasikan dengan adanya kontaminasi debu. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk semua kondisi, Silicon bisa saja berasal dari sumber lain baik itu dari eksternal atau dari internal machine atau unit itu sendiri. Selain itu juga, Silicon bisa terdapat pada oil baru (fresh oil) sebagai antifoam additive, jumlahnya sekitar 10 ppm.

Kemungkinan sumber kontaminasi Silicon dari internal machine atau unit :

  • Silicone sealant
  • Silica dari mechanical seals
  • Fibers dari fiberglass-type filter element
  • Silica gel dari desiccating breathers
  • Silicon-based grease
  • Komponen yang menggunakan campuran silicon carbide untuk meningkatkan hardness atau thermal expansion.

Kontaminasi Si yang berasal dari silicone sealant biasanya ditandai dengan Si terbaca tinggi tapi tidak dibarengi dengan kenaikan unsur atau metal lain (Gambar 1). Silicon juga biasa terdeteksi pada komponen machine atau unit baru, yang mana proses pembuatan komponen umum menggunakan metode sand molded casting.

contoh silicon tinggi

Hasil Si yang tinggi dapat disimpulkan berasal dari debu jika kenaikannya diikuti dengan kenaikan Aluminium (Al), dengan rasio nilainya 3.4:1 (Si:Al). Rasio tersebut adalah hasil rata-rata, bisa saja perbandingan Si:Al untuk debu berbeda-beda di tiap tempat machine atau unit itu beroperasi. Pada dasarnya debu itu berasal dari batuan dan unsur penyusun utamanya adalah Si dan Al (Gambar 2). Jika dalam machine atau unit terdapat komponen yang terbuat dari Aluminium, maka ketika Si dan Al terbaca tinggi, Al disini mungkin bisa juga tidak semua berasal dari debu tetapi sebagian dari keausan komponen

perbandingan silicon dan alumunium
contoh kontaminasi debu

Sumber :

  • KOWA (Komatsu Oil and Wear Analysis)
  • www.machinerylubrication.com
lube mapping

Strategi Terbaik Untuk Lube Mapping

“Data apa saja yang kita perlukan ketika melakukan Pemetaan Pelumasan (Lube Mapping) ? Bagaimana metodologi dan strategi terbaik untuk Lube Mapping ?”

Pemetaan Pelumasan (Lube Mapping) menjadi semakin lazim saat organisasi mulai bertransformasi dari pola perawatan konvensional menuju sistem perawatan dengan basis prosedur. Ini adalah langkah terbaik untuk memastikan semua area yang harus mendapatkan pelumasan, terjaga dengan baik, sekaligus juga meminimalisasi kemungkinan terjadinya kontaminasi silang antar pelumas. Lube Mapping tidak hanya akan membantu pekerja atau teknisi baru dalam mengidentifikasi semua titik pelumasan (lube points) pada peralatan, namun juga memastikan teknisi senior yang berpengalaman pun juga menganalisa titik pelumasan yang sama dengan baik.

Saat memulai pekerjaan Lube Mapping, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan tinjauan (audit) secara mendalam tentang pelumasan pada semua peralatan di fasilitas Anda. Peralatan yang mendapat benefit besar dari kegiatan mapping ini adalah peralatan atau mesin dengan tingkat kompleksitas dan criticality tinggi, yang berarti memiliki titik pelumasan yang cukup banyak. Setelah melalui proses produksi, konstruksi dan instalasi, beberapa titik pelumasan pada peralatan tersebut akan cukup sulit untuk dijangkau. Sehingga proses audit ini menjadi suatu keharusan.

Salah satu data yang penting adalah rekomendasi pelumas dari manufaktur atau OEM. Lakukan review pada rekomendasi yang diberikan oleh manufaktur dan bandingkan dengan pelumas yang digunakan pada fasilitas Anda. Hal ini akan membantu untuk mengkonfirmasi apakah pelumas yang kita gunakan sudah memenuhi spesifikasi peralatan. Contoh kasus ketika menggunakan pelumas sintetis, apakah kompatibel dengan material seal dan sebagainya.

Hal yang tak kalah penting adalah data ukuran bearing, kecepatan mesin, termasuk juga volume pelumas. Data ini bisa dikalkulasi atau bisa kita temukan pada buku manual perawatan dari pihak manufaktur. Selain volume pelumas, Anda juga perlu mengetahui berapa lama frekuensi atau jadwal pelumasan. Ketika menghitung frekuensi ini, pertimbangkan lingkungan pada lokasi peralatan beroperasi. Sebagai contoh, semakin tinggi temperatur lingkungan kerja di sekitar peralatan maka akan semakin sering grease diterapkan.

lube mapping

Lebih lanjut soal Lube Mapping, Anda dapat menggunakan foto atau gambar peralatan. Pada tiap-tiap lokasi titik pelumasan (lube points), Anda bisa memasang gambar atau foto peralatan dilengkapi dengan keterangan volume, frekuensi dan jenis pelumas yang digunakan. Adalah hal yang umum jika foto tersebut dilaminasi dan diletakkan dekat dengan peralatan, sehingga teknisi bisa mengaksesnya secara visual. Hal ini akan sangat membantu teknisi untuk memastikan bahwa mereka telah menyelesaikan pekerjaan pada semua titik pelumasan.

Lube Mapping adalah proses yang membutuhkan waktu, fokus dan usaha yang besar diawal pekerjaan. Setelah mapping selesai, perlu dilakukan evaluasi dan review secara berkala, termasuk pembaharuan ketika ada penggantian jenis pelumas atau modifikasi pada peralatan. Yang perlu diingat adalah tujuan dari mapping ini adalah untuk memudahkan pekerjaan teknisi atau operator di lapangan. Diperlukan ketelitian dalam melaksanakan audit dan mapping. Semakin detail audit yang Anda lakukan, akan semakin baik hasilnya untuk teknisi dan peralatan Anda.

Sumber : www.machinerylubrication.com

Open chat
Hello..

Nama : ?
Perusahaan : ?
Kota : ?

Apa yang dapat PETROLAB penuhi akan kebutuhan Bapak/Ibu ?