• Welcome to PETROLAB Services
  • Working Hours : Mon - Fri : 8:00 - 17:00

Author Archives: Petrolab Services

kompatibilitas minyak trafo

Kompatibilitas Minyak Transformator

Penambahan minyak transformator diperlukan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya terkadang saat setelah dilakukannya proses purifikasi, pengecekan internal pada transformator (Internal Inspection), atau saat level minyak pada trafo sudah dibawah batas normal dari level oil indicator pada transformator.

Terdapat hal yang perlu diperhatikan dalam menambahkan (topping up) minyak ke dalam transformator, yaitu minyak yang akan ditambahkan harus kompatibel dengan minyak yang ada di dalam transformator.

Minyak baru yang mempunyai klasifikasi yang sama (sesuai dengan IEC 60296) dengan minyak yang ada di dalam transformator (existing oil) dapat digunakan untuk menambahkan minyak ke dalam transformator. Akan tetapi, apabila minyak baru yang akan ditambahkan ke dalam transformator mempunyai perbedaan spesifikasi dari existing oil maka dibutuhkan uji kompatibilitas terhadap minyak baru tersebut dan minyak existing. Pengujian kompatibilitas minyak dibutuhkan karena jika campuran minyak tersebut tidak kompatibel maka akan berpotensi menghasilkan sludge yang akan mengganggu minyak untuk mendisipasikan panas di dalam transformator dan juga menurunkan kekuatan dielectric dari minyak transformator. Oleh karena itu, harus dipastikan hasil pengujian kompatibilitas minyak dari campuran minyak yang dilakukan adalah kompatibel.

Saat pengujian kompatibilitas, perbandingan campuran minyak, proporsi nya harus seusai dengan yang akan di aplikasikan. Apabila perbandingan antara minyak baru dan minyak existing tidak diketahui, disarankan untuk melakukan pengujian dengan perbandingan 50:50.

Pada pengujian kompatibilitas, campuran minyak dikatakan kompatibel adalah saat nilai-nilai dari pengujian pada campuran minyak tersebut tidak lebih rendah dari nilai-nilai terburuk dari masing-masing minyak. Parameter yang direkomendasikan untuk pengujian kompatibilitas ini (berdasarkan IEC 60422) adalah foaming, oxidation stability, dan corrosive sulphur. PT Petrolab Services dapat membatu untuk melihat karakter kompatibiltas tersebut untuk pengujian foaming dan corrosive suphur.

Setelah diketahui bahwa semua nilai hasil pengujian dari parameter-parameter pengujian kompatibiltas tidak lebih rendah dari nilai terburuk dari masing-masing minyak (minyak existing atau minyak baru), maka dapat dikatakan minyak tersebut kompatibel, tetapi untuk lebih meyakinkan terhadap kesimpulan tersebut disarankan berkonsultasi dengan pihak penyedia minyak tersebut dan pabrikan dari transformator tersebut.

Refferences :

  • IEC 60422, “Mineral Insulating Oils in Electrical Equipment-Supervision and Maintenance Guidance”, 2013.
  • IEC 60296, “Fluids for Electrotechnical Applications-Unised Mineral Insulating oils for  transformers and switchgear”, 2012

biodiesel

Sejarah dan Perjalanan Panjang Biodiesel

Ditemukan dan dikembangkan pada tahun 1893 oleh Dr. Rudolph Diesel, mesin diesel telah menjadi mesin pilihan untuk tenaga, keandalan, dan penghematan bahan bakar yang tinggi, di seluruh dunia. Para peneliti awal bahan bakar minyak nabati termasuk pemerintah Prancis dan Dr. Diesel sendiri, yang membayangkan bahwa minyak nabati murni dapat menggerakkan mesin diesel awal untuk pertanian di daerah terpencil di dunia, di mana minyak bumi tidak tersedia pada saat itu.

Ide ini pun mulai dipamerkan pertama kali di World’s Fair 1900 di Paris, Perancis. Waktu itu sebuah mesin diesel dengan bahan bakar dari minyak kacang tanah memukau pengunjung gelaran yang menampilkan pencapaian negara-negara di dunia. Mesin yang dibangun oleh perusahaan Otto atas sponsor pemerintah Perancis ini rencananya akan dipakai sebagai bahan bakar domestik untuk koloni mereka di Afrika. Rudolf Diesel pun percaya minyak nabati akan jadi pendukung utama konsep tersebut. Ia mulai melakukan riset mendalam mengenai bahan bakar nabati.

Tapi ketika Rudolf Diesel wafat pada 1913, ide ini terbengkalai. Sumber tenaga mesin diesel secara bertahap mulai menggunakan proses destilasi minyak bumi (petroleum diesel). Bahan bakar jenis inilah yang kemudian banyak dipakai dalam pengembangan mesin diesel modern. Kondisi ini membuat minyak nabati tidak bisa langsung dipakai sebagai bahan bakar mesin diesel. Sebab viskositas minyak nabati terbilang lebih tinggi dibandingkan petroleum diesel, sehingga menyulitkan proses pembakaran.

Namun ide ini kembali mendapat titik terang saat ilmuwan Belgia, G. Chavanne yang menemukan teknik transesterifikasi untuk mengubah minyak nabati menjadi FAME (Fatty Acid Methyl Ester) pada tahun 1937. FAME inilah yang saat ini dipakai menjadi bahan baku pembuatan biodiesel sampai sekarang. Salah satu alasannya karena sifat fisik atau molekulnya yang mirip dengan petroleum diesel. Meski begitu, pengembangan biodiesel mulai dikembangkan serius pada tahun 1970-an, saat isu krisis minyak dunia muncul.

Mesin diesel dikembangkan atas keinginan untuk memperbaiki mesin uap yang tidak efisien, tidak praktis, dan terkadang berbahaya. Mesin diesel bekerja berdasarkan prinsip kompresi pengapian, dimana bahan bakar diinjeksikan ke dalam silinder mesin setelah udara dikompresi ke tekanan dan suhu tinggi. Saat bahan bakar memasuki silinder, ia akan menyala sendiri dan terbakar dengan cepat, memaksa piston kembali ke bawah dan mengubah energi kimia dalam bahan bakar menjadi energi mekanik. Rudolph Diesel, yang dinamai mesin tersebut, memegang paten pertama untuk mesin kompresi pengapian, yang dikeluarkan pada tahun 1893. Diesel dikenal di seluruh dunia karena mesin inovatifnya yang dapat menggunakan berbagai bahan bakar.

Pekerjaan Awal

Mesin diesel awal memiliki sistem injeksi yang kompleks dan dirancang untuk bekerja dengan berbagai bahan bakar, dari minyak tanah hingga debu batu bara. Hanya masalah waktu sebelum seseorang menyadari bahwa, karena kandungan energinya yang tinggi, minyak nabati akan menjadi bahan bakar yang sangat baik. Demonstrasi publik pertama dari bahan bakar diesel berbasis minyak nabati terjadi di Pameran Dunia 1900, ketika pemerintah Prancis menugaskan perusahaan Otto untuk membuat mesin diesel yang dijalankan dengan minyak kacang. Pemerintah Prancis tertarik pada minyak nabati sebagai bahan bakar domestik untuk koloni Afrika mereka. Rudolph Diesel kemudian melakukan pekerjaan ekstensif pada bahan bakar minyak nabati dan menjadi pendukung utama konsep tersebut, percaya bahwa para petani dapat memperoleh keuntungan dari menyediakan bahan bakar mereka sendiri. Namun, dibutuhkan waktu hampir satu abad sebelum gagasan seperti itu menjadi kenyataan yang tersebar luas. Tidak lama setelah kematian Dr. Diesel pada tahun 1913, minyak bumi tersedia secara luas dalam berbagai bentuk, termasuk kelas bahan bakar yang kita kenal sekarang sebagai “bahan bakar diesel”. Dengan tersedianya bahan bakar minyak dan murah, desain mesin diesel diubah agar sesuai dengan sifat bahan bakar solar. Hasilnya adalah mesin yang hemat bahan bakar dan sangat bertenaga. Selama 80 tahun ke depan, mesin diesel akan menjadi standar industri yang membutuhkan tenaga, ekonomi dan keandalan.

Mesin Modern, Bahan Bakar Modern

Karena ketersediaan yang luas dan biaya produksi yang tinggi, bahan bakar berbasis minyak nabati hanya mendapat sedikit perhatian, kecuali pada saat harga minyak tinggi dan kekurangan. Perang Dunia II dan krisis minyak pada tahun 1970-an memperlihatkan minat sementara untuk menggunakan minyak nabati sebagai bahan bakar mesin diesel. Sayangnya, desain mesin diesel yang lebih baru tidak dapat dijalankan dengan minyak nabati tradisional, karena viskositas minyak nabati yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar solar. Diperlukan cara untuk menurunkan viskositas minyak nabati hingga dapat dibakar dengan baik di mesin diesel. Banyak metode telah diusulkan untuk melakukan tugas ini, termasuk pirolisis, pencampuran dengan pelarut, dan bahkan pengemulsi bahan bakar dengan air atau alkohol, tidak ada satupun yang memberikan solusi yang sesuai. Seorang penemu Belgia pada tahun 1937 pertama kali mengusulkan penggunaan transesterifikasi untuk mengubah minyak nabati menjadi alkil ester asam lemak dan menggunakannya sebagai pengganti bahan bakar diesel. Proses transesterifikasi mengubah minyak nabati menjadi tiga molekul yang lebih kecil yang tidak terlalu kental dan mudah terbakar di mesin diesel. Reaksi transesterifikasi adalah dasar produksi biodiesel modern, yang merupakan nama dagang untuk metil ester asam lemak. Pada awal 1980-an, perhatian terhadap lingkungan, ketahanan energi, dan produksi pertanian yang berlebihan sekali lagi membawa penggunaan minyak nabati ke permukaan.

Biodiesel Mendunia

Penelitian di Eropa dan Afrika Selatan seperti yang dilakukan oleh Martin Mittelbach memajukan pengembangan industri bahan bakar biodiesel di awal 1990-an, meskipun di industri AS mulai lebih lambat, karena harga solar minyak bumi yang lebih rendah. Pacific Biodiesel menjadi salah satu pabrik biodiesel pertama di Amerika Serikat pada tahun 1996 yang mendirikan operasi produksi biodiesel untuk mendaur ulang minyak goreng bekas menjadi biodiesel di pulau Maui di Hawaii. Industri biodiesel menjadi nama rumah tangga di A.S. setelah serangan teroris 9/11/2001 mengakibatkan harga minyak tinggi. Pada 2005, produksi biodiesel di seluruh dunia telah mencapai 1,1 miliar galon, dengan sebagian besar bahan bakar diproduksi di Uni Eropa, meskipun proyek biodiesel di seluruh dunia terus meningkat karena kenaikan harga minyak mentah dan kekhawatiran akan pemanasan global.

Masa Depan Bahan Bakar Biodiesel

Karena emisinya yang bersih, kemudahan penggunaan, dan banyak manfaat lainnya, biodiesel dengan cepat menjadi salah satu bahan bakar alternatif yang tumbuh paling cepat di dunia. Dengan subsidi minimal, biodiesel bersaing dengan biaya solar minyak bumi, dan jutaan pengguna telah menemukan dan menikmati manfaat dari bahan bakar tersebut. Masa depan biodiesel terletak pada kemampuan dunia untuk menghasilkan bahan baku yang dapat diperbarui seperti minyak nabati dan lemak untuk menjaga harga biodiesel agar tetap kompetitif dengan minyak bumi, tanpa mengganti lahan yang diperlukan untuk produksi pangan, atau menghancurkan ekosistem alami dalam prosesnya. Menciptakan biodiesel secara berkelanjutan, akan memungkinkan bahan bakar yang bersih, terbarukan, dan hemat biaya ini untuk membantu meringankan dunia melalui meningkatnya kekurangan minyak bumi, sambil memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan.

Sumber : www.biodiesel.com

D100

D100 si Green Diesel, Bahan Bakar Masa Depan ?

Dalam rangka meningkatkan energi bersih, Pemerintah terus mendorong pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Setelah B30, pengembangan greenfuel diharapkan dapat menghasilkan D100 (green diesel) atau yang disebut solar hijau. Sebagaimana diterangkan bahwa D100 adalah berasal dari RBDPO (Refine, Bleached and Deodorized Palm Oil) yakni minyak sawit mentah yang diproses di kilang sehingga hilang getah, impurities dan baunya yang kemudian diolah dengan menggunakan katalis merah putih.

Sifat bahan bakar ini sama dengan solar dari minyak bumi. Karena itu D100 pun dapat dibuat campurannya, seperti B20-D25, artinya bahan bakar itu mengandung FAME 20%, green diesel 25% dan sisanya solar minyak bumi.

Dari hasil uji performance menunjukkan bahwa green diesel ini memiliki cetane number 79 dan ini relatif lebih tinggi dari FAME, sulfur content yang rendah, nilai kestabilan oksidasi yang baik, warna yang lebih jernih dan setelah di uji coba (uji performance) gas CO2 yang dilepaskan lebih sedikit dari B100 (FAME). FAME mengandung oksigen dan ikatannya rangkap sehingga masih mengandung air, sementara D100 lebih ramah lingkungan dan kandungan oksigennya kecil, sehingga tidak menimbulkan air.

Hadirnya produk green energy ini menjadi jawaban untuk menyediakan energi ramah lingkungan di Indonesia. Selain itu, kehadiran D100 akan membuat penyerapan produksi minyak kelapa sawit domestik menjadi lebih optimal.

Hanya saja dari segi ekonomi, D100 memerlukan investasi pembangunan kilang khusus sebagai bagian proses hydrotreating minyak nabati, teknologi lebih advance dari proses transesterifikasi biodiesel. Dan secara kebijakan juga memang belum ada kewajiban spesifik mengatur penggunaan D100 baik pada (public service obligation/PSO) atau minyak solar bersubsidi maupun tidak.

Kedepannya, perlu kajian lebih mendalam lagi baik dari sisi lingkungan, ekonomi, sosial maupun logistik terkait D100 ini demi tercapainya industri biofuel di Indonesia sebagai bahan bakar masa depan.

Sumber : Dari berbagai sumber
Leela | Marketing Manager | leela@petrolab.co.id

palm oil

Secercah Harapan dari CPO si Penghasil Minyak Nabati yang Mendunia

Crude Palm Oil atau yang biasa dikenal CPO sudah tidak asing lagi namanya di dunia kelapa sawit. CPO merupakan komoditas yang tetap potensial dan akan selalu dibutuhkan untuk konsumsi masyarakat dunia.
Indonesia merupakan salah satu negara produsen CPO terbesar di dunia. Pengembangan lahan 13-juta hektar sudah disiapkan dan turunan kelapa sawit sudah di aplikasikan sebagai salah satu sumber energi terbarukan yakni biodiesel yang merupakan sumber energi masa depan.

Berikut adalah beberapa keunggulan lain dari CPO :

  1. Produktivitas tinggi, yaitu 3.74 ton/ha/tahun dibandingkan dengan minyak nabati lainnya yaitu minyak kedele yang 0.38 ton/ha/thn atau minyak bunga matahari yang 0.48 ton/ha/thn.
  2. CODEX Alimentarius Commission (http://www.codexalimentarius.org/) telah menerbitkan Standart for Named Vegetables Oil dimana minyak sawit mendominasi hampir 52% sebagai minyak nabati yang teraman.
  3. CPO memiliki potensi aplikasi yang sangat luas. Ada 163 produk yang dihasilkan oleh CPO dan turunannya. 82% memiliki kegunaan terhadap pangan.
  4. Minyak sawit memiliki dua fraksi utama : fraksi cair (olein) dan fraksi padat (stearin). Olein digunakan sebagai bahan dasar minyak goreng atau pun campuran minyak kacang tanah. Sedangkan Stearin digunakan sebagai bahan pembuat mentega / margarin karena sifatnya yang padat pada suhu ruang. Di Eropa stearin digunakan secara umum sebagai bahan pembuat butter ataupun campuran keju dan pembuatan coklat.
  5. Minyak sawit merupakan sumber vitamin E spesial yang bermanfaat sebagai antioksidan, anti penuan dini, kesehatan kulit, kesuburan reproduksi, mencegah aterosklerosis, anti kanker dan meningkatkan imunitas.

Peran CPO dalam ekspor nasional juga sangat besar. Indonesia tidak bisa menutup mata terhadap besarnya potensi industri sawit sebagai motor perekonomian nasional. Sawit memiliki daya saing yang sangat mumpuni dibandingkan minyak nabati lain. Pemerintah terus berusaha mengegolkan CPO ke dalam golongan produk penopang pembangunan berkelanjutan, pembangunan pedesaan dan pengentasan kemiskinan.

Semakin banyak produk turunan CPO yang dihasilkan, semakin besar pula nilai tambahnya bagi perekonomian nasional. Semoga!

Sumber : dari berbagai sumber
Leela | Marketing Manager | leela@petrolab.co.id

varnish

Penanganan Varnish yang Efektif pada Sistem Lubrikasi Turbin

Dalam beberapa tahun, terjadi kenaikan yang signifikan tentang masalah varnish pada sektor pembangkit listrik. Kenaikan ini terkait dengan temperatur operasi yang lebih tinggi, reservoir fluida dengan dimensi yang lebih kecil, siklus operasi yang lebih tinggi dan variatif.

Varnish biasa terbentuk pada area yang terpapar temperatur tinggi, seperti bearing, pompa atau filter pada line dengan laju aliran tinggi. Beberapa studi menemukan bahwa kontaminan terbentuk dalam larutan atau padatan terpisah. Padatan tersebut harus dipisahkan untuk menghindari pembentukan varnish lebih lanjut

Partikel kontaminan ini tidak bisa dihilangkan dengan filter mekanikal biasa atau filter elektrostatik. Kontaminan ini sifatnya polar dan menyerap pada objek dipolar, permukaan metalik dengan temperatur lebih rendah (dingin), seperti misalnya valve atau cooler. Kontaminan tersebut bisa pindah ketika temperatur pelumas berkurang selama keausan terjadi. Kontaminan ini juga memiliki thermal stability yang lebih rendah, sehingga akan cenderung menempel pada permukaan dingin/panas, misalnya journal bearing.